•  
    Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

    Maret 29, 2011

    Belajar Dari Zhang Da

    0 komentar




    Kawan, mungkin saat ini sudah banyak Sobat Blogger yg sudah lebih dulu berbagi tentang artikel mengenai kisah perjuangan hidup seorang Zhang Da ini, namun biarlah, saya pun juga ingin mencoba berbagi kisah tersebut, sekedar berharap, semoga bisa memberi manfaat, terutama untuk kita yang saat ini merasa benar-benar terpuruk & tersudut pada keadaan & kesulitan yg membelit.  
    Karena saya berpikir, ada pelajaran berharga, ada sesuatu yg luar biasa dibalik nama seorang bocah kecil yg bernama Zhang Da.
    Iya, Zhang Da, begitu saya membaca kisahnya, yg awalnya secara tidak sengaja saya mendapatkan cerita tersebut dari email yg dikirim oleh seorang teman / kenalan, & saya mngenalnya juga masih sebatas di Dunia Maya saja, & teman tersebut mengaku bahwa Dia merantau & bekerja jauh di Guangzhou, China (entah beneran di China atau cuma di sekitar Pelosok Indonesia saja...hehehee, tapi biarlah, cukup kita ambil positifnya saja, ambil hikmah & niat baiknya). Yg pasti, teman saya tersebut pasti berharap yg terbaik, agar saya, & kita semua bisa lebih sabar & lebih kuat menjalani hidup ini, dengan berkaca pada kisah hidup & kerasnya perjuangan hidup Zhang Da. :)

    Wookeeiihh Kawan, nggak usah terlalu bertele - tele, ntar makin lama bisa-bisa makin pusing kepala kita.... :)
    Sekarang silahkan Kawan" langsung baca aja ceritanya yaach, & jangan lupa sambil nyeeruupuut secangkir kopi, + sebatang rokok . B-)

    Berikut sepenggal kisah tentang Zhang Da,

    Sebuah nama...Zhang Da, begitulah, menurut cerita & berita, "Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa. 


    Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat? maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya.

    Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da. Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa. 

    Zhang Da sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia. Tetapi jika kita melihat apa yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia lakukan sampai sekarang (ia berumur 15 tahun), dan satu-satunya anak diantara 10 orang yang luarbiasa tersebut maka saya bisa katakan bahwa Zhang Da yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China.

    Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai.

    Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

    Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya.

    Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya. Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya.

    Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat. Zhang Da Merawat Papanya yang Sakit.

    Sejak umur 10 tahun, ia mudaa tanggufgjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.

    Zhang Da menyuntik sendiri papanya.Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa ia mampu,ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun,maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.


    "
    Aku Mau Mama Kembali"




    Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, “Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!” Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu” Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, saya pun tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya.
    Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya ?
    mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya ?
    mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit ?
    mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang dipegangnya semua akan membantunya ?
    Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya.
    Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya. Tidak semua orang bisa sekuat & sehebat Zhang Da dalam mensiasati kesulitan hidup ini, tapi setiap kita pastinya telah dikaruniai kekuatan & kemampuan yg istimewa untuk menjalani ujian hidup di dunia. Sehebat apapun ujian yg dihadapi, pasti ada jalan keluarnya.

    Kisah di atas bukan saja mengharukan namun juga menimbulkan kekaguman. Seorang anak berusia 10 tahun dapat menjalankan tanggung jawab yang berat selama 5 tahun. Kesulitan hidup telah menempa anak tersebut menjadi sosok anak yang tangguh dan pantang menyerah. Zhang Da boleh dibilang langka, karena sangat berbeda dengan anak-anak modern.
    Saat ini banyak anak yang segala sesuatunya selalu dimudahkan oleh orang tuanya. Karena alasan sayang, orang tua selalu membantu anaknya, meskipun sang anak sudah mampu melakukannya.
    Ada anak yang sudah sekolah di SD masih disuapi, dan memakai bajupun masih dibantu.

    Kawan, mungkin hikmah yg bisa kita petik dari kisah Zhang Da adalah: Bahwa ternyata potensi & daya juang seorang anak, sering sekali baru akan nampak/ terlihat, justru ketika si anak tersebut sedang ditimpa & ditempa dengan kesulitan, andai saja langkah setiap anak selalu kita permudah, maka kecil kemungkinan kreatifvitas dan daya juang anak tersebut untuk tumbuh. Dan ada benarnya juga, jika kakek saya dahulu sering berpesan, ” JANGAN MUDAHKAN HIDUP ANAK & CUCU KITA HARI INI, KARENA, ITU HANYA AKAN MENYESATKAN & MENYULITKANNYA DI KEMUDIAN HARI.


    Kawan, klo membaca kisah Zhang Da, saya jadi teringat pada masa kecil dulu, waktu masih bersama Kakek & Nenek dikampung, Kakek & Nenek sering sekali menasehatkani, 
    jika aku saat ini mengajarkanmu untuk belajar, bekerja, & berjuang dengan keras & gigih dalam menjalani hidup, mengertilah, itu semua demi kebaikanmu sendiri, meski bukan saat ini, tapi kelak, jika kamu sudah beranjak dewasa, & mulai belajar memahami arti hidup yg sesungguhnya. Mungkin sekarang kamu akan sangat marah & sulit memahaminya, mungkin kamu akan berkata, Kakek & Nenekmu ini sungguh orang yg kejam, tapi simpanlah dalam- dalam di lubuk hatimu, tanamkan yg kuat dalam ingatanmu, bahwa ini bukanlah satu kekejaman, tapi ini semua Kakek & Nenek lakukan demi kebaikan kamu. 
    Terima kasih Kakek, terima kasih Nenek, tiada warisan yg lebih berharga selain ilmu yg Kalian ajarkan.
    Kawan, sekarang sudah saatnya untuk kita berfikir lebih jauh & lebih dalam lagi, jika Zhang Da saja mampu, bagaimana dengan diri kita ? apakah kita juga mampu ?
    Semoga saja, yach.... semoga saja kita mampu.
    Wallahu a'lam.

    Januari 15, 2011

    Merengkuh Dunia & Akhirat

    0 komentar
    Ya Allah,Engkau-lah pemilik sejati dari dunia beserta isinya,mengapa lagi kami tak mau tunduk dan patuh KepadaMU,dan mengapa kami justru mengejar apa yg sebenarny ada dlm kekuasaanMU.Jika demikian,pastilah yg bermain adalah kebodohan,nafsu dan keinginan pendek kami.

    Ya Allah,jadikan kami org2 yg bisa merengkuh dunia tanpa mengabaikan diriMU.Jadikan pula kami memjadi org2 yg bs bersyukur,dg menggunakan nikmat sesuai apa yg Engkau ridhoi pada jalan yg halal serta sudi membantu sesama.

    Andaikan dunia menggelapkan mata kami, pada Engkau lah harapan kami tuk mengingatkan kami.

    Andai dunia membuat kami tersudut,Engkau jugalah yg kami harap bs menyelamatkan kami.

    Andai dunia membuat kami terlempar dari kehidupan normal,kembalikanlah kehidupan kami seperti sebelum kehinaan datang.
    Amin.

    By . Kinanti Priasdhini

    Januari 02, 2011

    Orang yang Berjiwa Besar

    0 komentar

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Harta tidak akan berkurang gara-gara sedekah. Tidaklah seorang hamba memberikan maaf -terhadap kesalahan orang lain- melainkan Allah pasti akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap rendah hati (tawadhu’) karena Allah (ikhlas) melainkan pasti akan diangkat derajatnya oleh Allah.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/194])
    ……….
    Hadits yang mulia ini memberikan berbagai pelajaran penting bagi kita, di antaranya:
    1. Hadits ini menganjurkan kita untuk bersikap ihsan/suka berbuat baik kepada orang lain, entah dengan harta, dengan memaafkan kesalahan mereka, ataupun dengan bersikap tawadhu’ kepada mereka (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
    2. Anjuran untuk banyak bersedekah. Karena dengan sedekah itu akan membuat hartanya berbarokah dan terhindar dari bahaya. Terlebih lagi dengan bersedekah akan didapatkan balasan pahala yang berlipat ganda (lihat Syarh Muslim [8/194]). Selain itu, sedekah juga menjadi sebab terbukanya pintu-pintu rezeki (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
    3. Anjuran untuk menjauhi sifat bakhil/kikir.
    4. Kebakhilan tidak akan menghasilkan keberuntungan
    5. Hadits ini menunjukkan keutamaan bersedekah dengan harta
    6. Sedekah adalah ibadah
    7. Allah mencintai orang yang suka bersedekah -dengan ikhlas tentunya-
    8. Terkadang manusia menyangka bahwa sesuatu bermanfaat baginya, namun apabila dicermati dari sudut pandang syari’at maka hal itu justru tidak bermanfaat. Demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu alangkah tidak bijak orang yang menjadikan hawa nafsu, perasaan, ataupun akal pikirannya yang terbatas sebagai standar baik tidaknya sesuatu. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Manusia itu, sebagaimana telah dijelaskan sifatnya oleh Yang menciptakannya. Pada dasarnya ia suka berlaku zalim dan bersifat bodoh. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya dia menjadikan kecenderungan dirinya, rasa suka, tidak suka, ataupun kebenciannya terhadap sesuatu sebagai standar untuk menilai perkara yang berbahaya atau bermanfaat baginya. Akan tetapi sesungguhnya standar yang benar adalah apa yang Allah pilihkan baginya, yang hal itu tercermin dalam perintah dan larangan-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 89)
    9. Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya menepis keragu-raguan dan menyingkap kesalahpahaman yang bercokol di dalam hati manusia
    10. Memberikan targhib/motivasi merupakan salah satu metode pengajaran yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
    11. Hadits ini juga menunjukkan pentingnya memotivasi orang lain untuk beramal salih
    12. Anjuran untuk memberikan maaf kepada orang lain yang bersalah kepada kita -secara pribadi-. Dengan demikian -ketika di dunia- maka kedudukannya akan bertambah mulia dan terhormat. Di akherat pun, kedudukannya akan bertambah mulia dan pahalanya bertambah besar jika orang tersebut memiliki sifat pemaaf (lihat Syarh Muslim[8/194]).
    13. Di antara hikmah memaafkan kesalahan orang adalah akan bisa merubah musuh menjadi teman -sehingga hal ini bisa menjadi salah satu cara untuk membuka jalan dakwah-, atau bahkan bisa menyebabkan orang lain mudah memberikan bantuan dan pembelaan di saat dia membutuhkannya (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 109)
    14. Allah mencintai orang yang pemaaf.
    15. Anjuran untuk bersikap tawadhu’/rendah hati. Karena dengan kerendahan hati itulah seorang hamba akan bisa memperoleh ketinggian derajat dan kemuliaan, ketika di dunia maupun di akherat kelak (lihat Syarh Muslim[8/194]).
    16. Hakekat orang yang tawadhu’ adalah orang yang tunduk kepada kebenaran, patuh kepada perintah dan larangan Allah dan rasul-Nya serta bersikap rendah hati kepada sesama manusia, baik kepada yang masih muda ataupun yang sudah tua. Lawan dari tawadhu’ adalah takabur/sombong (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
    17. Allah mencintai orang yang tawadhu’
    18. Larangan bersikap takabur; yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain
    19. Tawadhu’ yang terpuji adalah yang dilandasi dengan keikhlasan, bukan yang dibuat-buat; yaitu yang timbul karena ada kepentingan dunia yang bersembunyi di baliknya (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
    20. Yang menjadi penyempurna dan ruh/inti dari ihsan/kebajikan adalah niat yang ikhlas dalam beramal karena Allah (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
    21. Ketawadhu’an merupakan salah satu sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah. Di samping ada sebab lainnya seperti; keimanan -dan itu yang paling pokok- serta ilmu yang dimilikinya. Bahkan, ketawadhu’an itu sendiri merupakan buah agung dari iman dan ilmu yang tertanam dalam diri seorang hamba (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 110)
    22. Hadits ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk mencari ketinggian dan kemuliaan derajat di sisi-Nya. Sedangkan orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa (lihat QS. al-Hujurat: 13). Dan salah satu kunci ketakwaan adalah kemampuan untuk mengekang hawa nafsu, sehingga orang tidak akan bakhil dengan hartanya, akan mudah memaafkan, dan tidak bersikap arogan ataupun bersikap sombong di hadapan manusia.
    23. Hadits ini menunjukkan keutamaan mengekang hawa nafsu dan keharusan untuk menundukkannya kepada syari’at Rabbul ‘alamin
    24. Hendaknya menjauhi sebab-sebab yang menyeret kepada sifat-sifat tercela -misalnya; kikir dan sombong- dan berusaha untuk mengikisnya jika seseorang mendapati sifat itu ada di dalam dirinya
    25. Kemuliaan derajat yang hakiki adalah di sisi Allah (diukur dengan syari’at), tidak diukur dengan pandangan kebanyakan manusia
    26. Bisa jadi orang itu tidak dikenal atau rendah dalam pandangan manusia -secara umum-, akan tetapi di sisi Allah dia adalah sosok yang sangat mulia dan dicintai-Nya. Tidakkah kita ingat kisah Uwais al-Qarani seorang tabi’in terbaik namun tidak dikenal orang, diremehkan, dan tidak menyukai popularitas?
    27. Pujian dan sanjungan orang lain kepada kita bukanlah standar apalagi jaminan. Sebab ketinggian derajat yang hakiki adalah di sisi-Nya. Oleh sebab itu, tatkala dikabarkan kepada Imam Ahmad oleh muridnya mengenai pujian orang-orang kepadanya, beliaupun berkata, “Wahai Abu Bakar -nama panggilan muridnya-, apabila seseorang telah mengenal jati dirinya, maka tidak lagi bermanfaat ucapan (pujian) orang lain terhadapnya.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalabil Ilm, hal. 22). Ini adalah Imam Ahmad, seorang yang telah hafal satu juta hadits dan rela mempertaruhkan nyawanya demi menegakkan Sunnah dan membasmi bid’ah. Demikianlah akhlak salaf, aduhai… di manakah posisi kita bila dibandingkan dengan mereka? Jangan-jangan kita ini tergolong orang yangmaghrur/tertipu dengan pujian orang lain kepada kita. Orang lain mungkin menyebut kita sebagai ‘anak ngaji’, orang alim, orang soleh, atau bahkan aktifis dakwah. Namun, sesungguhnya kita sendiri mengetahui tentang jati diri kita yang sebenarnya, segala puji hanya bagi Allah yang telah menutupi aib-aib kita di hadapan manusia… Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami
    28. Islam menyeru kepada akhlak yang mulia
    29. Islam mengajarkan sikap peduli kepada sesama dan agar tidak bersikap masa bodoh terhadap nasib atau keadaan mereka
    30. Sesungguhnya ketaatan itu -meskipun terasa sulit atau berat bagi jiwa- pasti akan membuahkan manfaat besar yang kembali kepada pelakunya sendiri. Sebaliknya, kedurhakaan/maksiat itu -meskipun terasa menyenangkan dan enak- maka pasti akan berdampak jelek bagi dirinya sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Perkara paling bermanfaat secara mutlak adalah ketaatan manusia kepada Rabbnya secara lahir maupun batin. Adapun perkara paling berbahaya baginya secara mutlak adalah kemaksiatan kepada-Nya secara lahir ataupun batin.”(al-Fawa’id, hal. 89). Allah ta’ala telah menegaskan (yang artinya), “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan bisa jadi kalian menyenangi sesuatu padahal itu adalah buruk bagi kalian. Allah Maha mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui -segala sesuatu-.” (QS. al-Baqarah: 216)
    31. Pahala besar bagi orang yang berjiwa besar; yaitu orang yang tidak segan-segan untuk menyisihkan sesuatu yang dicintainya -yaitu harta- guna berinfak di jalan Allah, mau melapangkan dadanya untuk memaafkan kesalahan orang lain kepadanya, serta bersikap tawadhu’ dan tidak meremehkan orang lain.
    32. Ketiga macam amal soleh ini -dengan izin Allah- bisa terkumpul dalam diri seseorang. Dia menjadi orang yang dermawan, suka memaafkan, dan juga rendah hati. Perhatikanlah sifat-sifat dan kepribadian Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya ketiga sifat ini akan kita temukan dalam diri beliau. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah teladan yang baik, yaitu bagi orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. al-Ahzab: 21)
    33. Di samping menyeru kepada persatuan umat Islam -di atas kebenaran- maka Islam juga menyerukan perkara-perkara yang menjadi perantara atau sebab terwujudnya hal itu. Di antaranya adalah dengan menganjurkan 3 hal di atas: suka bersedekah -yang wajib ataupun yang sunnah-, suka memaafkan, dan bersikap rendah hati/tawadhu’. Sesungguhnya, kalau kita mau mencermati kondisi kita di jaman ini -yang diwarnai dengan kekacauan serta fitnah yang timbul di medan dakwah-, akan kita dapati bahwa kebanyakan di antara kita -barangkali- amat sangat kurang dalam menerapkan ketiga hal tadi. Akibat tidak suka bersedekah, banyak kepentingan umat -khususnya dakwah- yang tidak terurus dengan baik. Akibat sulit memaafkan, permusuhan yang tadinya hanya bersifat personal pun akhirnya melebar menjadi permusuhan kelompok. Akibat perasaan lebih tinggi dan gengsi, jalinan ukhuwah yang terkoyak pun seolah tak bisa dijalin kembali. Masing-masing pihak ingin menang sendiri dan berat mendengarkan pandangan atau argumentasi saudaranya. Maka yang terjadi adalah sikap saling menyalahkan, dan kalau perlu menjatuhkan kehormatan saudaranya tanpa alasan yang dibenarkan. Kalau seperti itu caranya, ya tidak akan pernah ketemu… Bisa jadi ini hanya sekedar analisa, namun tidak kecil kemungkinannya itu merupakan realita yang ada, wallahul musta’an. Sebagian orang, setelah selesai mendengar kritikan dari saudaranya seketika itu pula ia memberikan ‘serangan balik’ kepada sang pengkritik. Padahal, nasehat yang didengarnya belum lagi meresap ke dalam akal sehatnya. Karena merasa dirinya telah ‘dilecehkan’ dia pun berkata kepada temannya, “Saya juga punya kritikan kepadamu. Kamu itu begini dan begitu…” Wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- marilah kita bersama-sama berlatih untuk menerima kritik dan nasehat dengan lapang dada (lihat wasiat ke-31 bagi penuntut ilmu, dalam Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilm, hal. 268-269). Ingatlah ucapan seorang Syaikh yang mulia ketika berceramah menegaskan isi nasehat Syaikh Rabi’ bin Hadi -hafizhahullah- dalam Daurah Nasional yang belum lama berlalu di Masjid Agung Bantul Yogyakarta, “Tidak ada seorang insanpun melainkan pasti pernah terjatuh dalam kekeliruan… Namun, yang tercela adalah orang yang tetap bersikukuh mempertahankan kesalahannya.” Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang berjiwa besar, Allahumma amin. Rabbanaghfirlana wa li ikhwaninal ladzina sabaquna bil iman, wa laa taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu, Rabbana innaka ra’ufur rahim.

    Pakar Radar Hebat Asli Indonesia tapi Jepang

    0 komentar
    Bagi Sobat- sobat yang masih pelajar dan yang masih punya semangat untuk menjadi pahlawan semoga artikel yang dikutip dari vivanews ini bisa menginspirasi dan menambah semangat anda untuk giat belajar, mengapai cita cita setinggi langit……

    pakar
    Sudah sekitar 13 tahun sepeda onthel perak itu menemani Dr Josaphat Tetuko Sri Sumantyo beraktivitas di negeri orang.
    Di Jepang, bersepeda dan berjalan kaki memang hal biasa. Tak heran, bila saban hari, Pak Josh – begitu panggilan akrab Josaphat, mengantar-jemput anaknya menggunakan sepeda bermerk Drake, itu. Dengan sepeda itu pula, Josh biasa pulang-pergi dari kediamannya ke kampus Chiba University Jepang.
    Di kampus itu, Josh dipercaya mengelola Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory yang merupakan laboratorium pengembangan perangkat dan aplikasi penginderaan jarak jauh microwave terlengkap di Jepang saat ini. Lab itu mendukung segala perancangan sensor microwave (SAR), fabrikasi hingga pengoperasiannya, bahkan pengembangan aplikasi penginderaan jarak jauh.
    Josh telah lama mendalami bidang antena, sensor, dan radar. Totalitas dan dedikasinya di bidang ini membuatnya meraih berbagai penghargaan. Mulai dari Nanohana Venture Competition Award, Nanohana Competition Award, hingga Chiba University President Award (kesemuanya diselenggarakan oleh Chiba University).
    jago radar
    Jago radar
    Pada awal Maret 2010 lalu, ia juga menyabet penghargaan The Society of Instrument and Control Engineers (SICE) Remote Sensing Division Award. Anggota Society of Instrument and Control Engineers (SICE) sendiri adalah lembaga-lembaga besar seperti JAXA (lembaga antariksa Jepang), NICT (Institut Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi Jepang), NIES (Institut Nasional Studi Lingkungan), ISAS (Institut Ilmu Pengetahuan Antariksa dan Astronotikal), universitas-universitas, serta perusahaan-perusahaan besar perlengkapan antariksa Jepang mulai dari Mitsubishi, Toshiba, dan NEC.
    pakar radar
    Penghargaan ini dianugerahkan atas hasil penelitiannya berjudul ‘Long term continuously DInSAR technique for volume change estimation of subsidence’. Dengan memakai metoda baru penginderaan synthetic aperture radar (SAR), Josh bisa mengukur perubahaan volume permukaan bumi dengan tingkat akurasi hingga millimeter kubik.
    “Setiap perubahan di permukaan bumi beberapa millimeter kubik dapat dideteksi secara akurat menggunakan metoda saya dari ruang angkasa,” ujar Josh kepada VIVAnews melalui surat elektronik. Menggunakan sensor yang disandang satelit milik Jepang: JERS-1 SAR dan ALOS PALSAR, dari ketinggian sekitar 800 km, Josaphat mampu mengetahui adanya penurunan permukaan bumi yang cukup besar di wilayah Bandung dan sekitarnya dari tahun 1993 hingga 2010.
    Menurut dia, kota Cimahi mengalami penurunan permukaan tanah sebesar sekitar 19 kali volume stadion Senayan. Sedangkan daerah Dayeuhkolot dan Baleendah Bandung telah kehilangan volume tanah selama kira-kira 3,2 dan 1,1 kali dari volume stadion Senayan.
    “Penurunan tanah di daerah Cimahi, Dayeuhkolot, dan Baleendah terjadi karena penyedotan air bawah tanah yang berlebihan akibat semakin tambahnya populasi penduduk dan industri di daerah tersebut,” ia menjelaskan.
    Menurutnya, metoda penginderaan itu akan lebih baik hasilnya bila memakai sensor yang sedang ia kembangkan. Karena itu, Josh akan meluncurkan satelit sendiri yang akan membawa sensor besutannya pada 2014 yaitu circularly polarized synthetic aperture radar microsatellite atau disingkat CP-SAR mSAT .
    Rencananya, microsatellite itu akan dipasangi radar kecil dan antenna-antenna berukuran 2 micron meter sebagai sensor observasi bumi, yang bahkan untuk melihatnya pun perlu menggunakan mikroskop. Bila persiapannya lancar, mikrosatelit ini akan menjadi mikrosatelit pertama di dunia yang dipasangi sensor radar.
    Secara keseluruhan, Josh telah memiliki seratusan paten yang tersebar di 118 negara di dunia. Karya-karyanya sebagian telah dimanfaatkan oleh pelaku industri di Jepang dan di masa depan, akan diaplikasikan di bidang telekomunikasi, transportasi, penginderaan jarak jauh,kesehatan maupun miiliter.
    1200 unit Radar cuaca buatannya akan digunakan oleh perusahaan Jepang Weathernews Corporation untuk mengirimkan informasi prediksi cuaca 3-Dimensi. Informasi ini nantinya juga digunakan untuk navigasi pesawat, kapal (alat transportasi massa) dengan lebih akurat. Ia juga tengah membuatkan radar anti bajak laut bagi kapal-kapal skala besar Jepang, maupun radar-radar untuk mobil yang melewati daerah bersalju.
    Sebenarnya masih banyak lagi riset-risetnya yang bermanfaat dan sangat relevan dengan kebutuhan dalam negeri Indonesia. Antara lain risetnya di bidang pemantauan pergerakan lempeng serta pemantauan musibah dan manajemen bencana berbasis penginderaan jarak jauh.
    “Riset ini dapat digunakan memonitor pergerakan permukaan bumi dengan akurasi milimeter, memonitor pergeseran permukaan bumi sebelum tanah longsor terjadi, atau pergerakan sesar atau patahan,” kata dia. Sayangnya, bukan Indonesia yang memanfaatkannya, justru negeri jiran yang menikmati hasil penelitian ini.
    Riset ini justru menjadi salah satu bantuan teknologi pemerintah Jepang kepada pemerintah Malaysia untuk memetakan daerah-daerah rawan tanah longsor di Semanjung Malaysia yang proyeknya akan dilaksanakan selama tahun 2011-2016, melalui program Official Development Assistance (ODA).
    Jualan es lilin
    Kesuksesan Josaphat tak lepas dari kisah hidupnya di masa lalu. Pada diri Josh bisa mengalir darah pengajar, baik dari ayahnya, maupun ibunya. Ayahnya, Michael Suman Juswaljati adalah instruktur Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat, sekarang Kopaskhas) TNI-AU. Sementara Ibunya, Florentina Srindadi, pernah menjadi guru Taman Kanak-kanak. “Mungkin secara tidak sadar ini yang menyebabkan sayapun kini menjadi staf pengajar di Chiba University,” kata Josh
    Lahir pada 25 Juni 1970 di RSAU Lapangan Udara Sulaiman Margahayu Kabupaten Bandung, Josh kemudian dibesarkan di desa kecil Colomadu Kartasura Jawa Tengah, hingga SMP. Ia mulai mengenal radar-radar milik AURI saat ikut ayahnya melatih tentara di sekolah pendidikan yang bersebelahan dengan bagian perbengkelan dan pemeliharaan radar (Benhar), ke pangkalan udara Adisumarmo Solo.
    Sejak kecil ia dididik mandiri dan menjadi pekerja keras. Josh pernah berjualan es lilin semasa SD hingga SMP. Josh menjadi terbiasa memutar otak mencari siasat agar dagangannya laris. “Saya terbiasa berpikir cepat dan tanggap membaca kebutuhan orang lain sejak kecil, termasuk menghitung hasil penjualan dan memberikan bonus kepada ibu-ibu yang membantu menjualkan es lilin keluarga kami di desa-desa sekitar kami tinggal.”
    Josh melanjutkan sekolahnya ke SMA Negeri I Solo. Lalu dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah S1 dan S2 di Kanazawa University Jepang pada jurusan Electrical and Computer Engineering. Kemudian ia mendapatkan gelar Ph.D. di bidang Applied Radio Wave and Radar Systems dari Chiba University pada 2002.
    Setelah itu ia sempat diminta menjadi staff pengajar di Chiba University (Jepang), Leicester University (UK), dan University of Hebrew (Israel), namun ia memilih Chiba University karena dekat dengan Bandara Narita, sehingga tetap bisa mendukung kegiatan penelitian dan kontribusinya ke seluruh dunia.
    Tak cuma menjadi Associate Professor (karyawan permanen atau PNS) di kementerian pendidikan dan teknologi Jepang (Monbukagakusho), Josh juga menjadi visiting professor, adjunct professor dan jabatan lain di Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Udayana, Universitas Hasanuddin, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Padjajaran. Secara berkala ia datang ke sini untuk mengajar universitas-universitas Indonesia, dan tak segan-segan mengeluarkan kocek pribadinya untuk itu.
    Banyak pula mahasiswa asal Indonesia yang berkemauan kuat untuk maju dan berprestasi, yang kemudian menemukan teknologi tinggi melalui labnya di Chiba. “Saya ingin memajukan teknologi dan sains Indonesia melalui hasil-hasil pemikiran yang ‘only one’ di dunia, khususnya di bidang sensor-sensor untuk ruang angkasa dan penginderaan jarak jauh.”
    Jangan ikut asing
    Lama menimba ilmu dan berkarya di negeri orang memberikannya perspektif tentang kondisi di tanah air. Menurut Josh, seharusnya setiap negara –termasuk Indonesia, memiliki ciri tersendiri dalam menciptakan sistem pendidikan dan budaya keilmuan, demikian juga seharusnya di Indonesia. Ia melihat kebijakan sekarang cenderung mengejar ketertinggalan teknologi dan sains Indonesia dari negara maju.
    Padahal, semestinya kita mengkaji cara pikir ke-Indonesia-an yang khas sebelum menciptakan bibit-bibit teknologi yang bisa disumbangkan untuk dunia. “Kalau kita mengejar terus, maka kita akan ketinggalan terus. Sebaiknya kita harus perbaiki arahnya untuk menciptakan trend keilmuan yang bersumber dari kesadaran akan alam Indonesia.”
    Selain itu ia juga khawatir, karena banyak budaya dan pemikiran khas Indonesia yang telah ditinggalkan. “Kita malah berlomba-lomba menyempurnakan pemikiran, tradisi dan budaya bangsa asing di Indonesia, seakan lebih murni dan sempurna dibanding di tempat asalnya,” kata Josh. Padahal, ini justru akan menutup kemampuan berfikir, sekaligus menghilangan jati diri dan budaya kita.
    Agar “warna” Indonesia tak pudar di peta dunia, kata dia, kita perlu keras kepala kepada budaya asing, bukan malah mengikutinya. Lebih jauh, Josh merujuk beberapa negara-negara yang memiliki latar belakang budaya kuat, seperti Jepang, China, Korea, dan bahkan Israel.
    Kolektor peta kuno
    Di luar kegiatan akademiknya, Josh punya hobi mengumpulkan dokumen lama budaya Indonesia, dan peta kuno Indonesia maupun dunia. Dia banyak mendapatkan benda-benda itu melalui lelang. Koleksinya antara lain peta dari abad 19. Hobinya ini dipicu oleh kenangannya di masa kecil karena ayahnya sering membawa peta militer.
    “Dulu saya hanya ingin punya peta-peta kuno wilayah Indonesia saja, tetapi sekarang sudah saya kumpulkan peta-peta kuno asli untuk wilayah Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia timur, hingga Australia, dalam berbagai skala. Bahkan Josh tengah menyusun sebuah buku tentang sejarah pembuatan peta.
    Namun, hobi Josh paling utama adalah kegiatan penelitian itu sendiri. “Saya adalah pekerjaan saya, dan pekerjaan saya adalah hobi saya, yaitu penelitian itu sendiri yang telah saya senangi sejak kecil,“ kata Josh. Menurut Dra. Rr. Innes Indreswari Soekanto, M.S.Arch , istri Josh yang juga dosen pengajar di Institut Teknologi Bandung, suaminya selalu membiasakan budaya analisa dan penelitian di setiap kesempatan.
    “Bahkan di saat keluarga tengah piknik dan berekreasi ‘kepala’ kami tak pernah ditinggal,” kata Innes sambil tertawa. Misalnya saja, saat keluarga mereka berlibur ke Eropa saat tahun lalu, Josh juga menyempatkan diri untuk mempelajari tentang unmanned aerial vehicle (pesawat tak berawak) di Ulm Jerman. Kebiasaan ini pun kemudian ditularkan kepada anak semata wayang mereka, Johannes Pandhito Panji Herdento yang masih berusia 12 tahun.
    Menurut Josh, ia kerap mengajak Mas Dhito (panggilan Josh kepada anaknya) saat melakukan survei atau mempresentasikan hasil penelitian mereka ke berbagai tempat. Kepadanya, Josh juga menanamkan kebebasan berpikir dan mengekspresikan diri, serta kepekaan membaca lingkungan dan kondisi alam. “Agar kelak bagaimanapun lingkungan berubah, dia dapat menyesuaikan diri tanpa mengorbankan jati dirinya.”
    Di luar karirnya, Josh menyimpan obsesi pribadi. Dia ingin membuat dan meluncurkan satelit untuk mengamati planet-planet, termasuk planet bumi. Di masa tuanya nanti, Josh ingin menikmati masa pensiunnya bersama keluarga sambil terus menjalankan penelitian-penelitian pribadinya.
    “Saya ingin berkumpul bersama isteri, membimbing anak dan cucu-cucu, bersilaturahmi dengan semua manusia, sambil terus mengelola laboratorium radar pribadi, studio seni, dan museum keluarga kami yang berisi koleksi yang kami kumpulkan selama ini, termasuk kendaraan pribadi saya – sepeda onthel yang menemani saya selama ini di Jepang,” kata Josh.(np)